AKU DAN ISTRIKU
KETIKA ANAK ANAK
KETIKA ANAK ANAK
Ketika aku masih di Sumberrejo dan belum pindah ke Surabaya, keluargaku memiliki sawah cukup luas lebih dari satu tempat, salah satunya dikerjakan oleh Pak Sardi yang lebih akap dipanggil Pak-e Mu (bapaknya Mu) karena anak pertamanya bernama Munawar)
Karena itulah, sehingga aku mengenal keluarganya mulai dari Mbah Dono kakek dari Munawar. Rering aku masa kecil itu bermain atau sekedar melihat sawah yang terbentang luas. Aku masih ingat bahwa Pak-e Mu mengerjakan sawah milik Nenek tidak digaji, tetapi sistim bagi hasil.
Sistim bagi hasil itu adalah berupa nenek menyediakan lahan dan Pak-e Mu menyediakan bibit tanaman dan menanam serta merawat sampai waktunya panen tiba, hasilnya dibagi antara nenek dangan Pak-e Mu, sedang pajaknya yang membayar adalah nenek.
Di kehidupan masa kecilkku, kebutuhan hidup keluarga bersumber dari pensiunan Mantri Guru dan hasil dari sawah. Karenan pensunan Mantri Guru dan tinggal di utara pasar sebutan untuk nenek yang tak asing lagi adalah mbah Mantri lor Pasar.
Adik Nenek yang berada di Tlumbung dikenal dengan panggilan Mbah Palang karena lahirnya di daerah Palang Tuban. Mbah Palang ini meninggalnya selisih 1 bulan dengan nenekku dengan hari yang sama dan jam hanya terpaut sedikit.
Setelah Nenek berpulang, penghasilan biaya hidup yang berkurang karena pensiun habis tidak dapat diwariskan, penggantinya berupa sewa lahan depan dan samping rumah tiap hari pasaran yaitu Kliwon.
Setiap kliwon, parkir sepeda cukup membludak karena tempat sangat strategis persis diseberang pasar Sumberrejo. Dari masukan uang parkir, saat itu dibagi tiga, pertama untuk penjaga (Hansip sekitar 5 orang), kedua Untuk keluargaku dan ke tiga untuk uang kas Desa.
Sekitar jam 13 wib, aku diberi mendapat uangjajan Rp 5 rupiah. Uang itu cukup besar bagi aku yang masih sekolah dio SD karena Rp 1,- rupiah bila dibelikan permen dapat 10 biji (sakarang 1 biji Rp 100,-).
Setelah diberi oleh bude ku (kakaknya ibu yang mengendalikan keuangan di keluarga) aku sering bermain ke sawah setelah sebelumnya membeli permen. Disawah itu aku sering bertemu dengan 2 anak perempuan kecil anaknya Pak-e Mu..
Saat itu aku selalu memperhatikan setiap gerak gerik 2 perempuan berbaju lusuh tetapi kulitnya putih bersih terutama yang kecil lebih putih dan lebih cantik. Seterusnya anak perempuan kecil yang lebih muda sering ikut ibunya kerumah. Hal itu bisa dikata rutin karena ibunya sering diminta tolong bude untuk menumbuk padi.
Menginjak tahun 1975, aku tak pernah ketemu lagi dengan mereka karena aku pindah ke Surabaya. Meski telah pindah, aku masih sering bertemu si gadis kecil yang makin besar dan tambah cantik. Gadis itu datang kerumah ikut ibunya memberikan hasil panen sawah yang dikerjakan oleh bapaknya.
Saat itu aku tak pernah berpikir kenapa yang sering ketemu hanya yang kecil dan yang bersar tak pernah ikut. Akupun tak pernah berfikir bagaimana dia saat itu. Pertemuan dengan yang gais yang besar baru terjadi di ketika dia sudah tumbuh menjadi sosok dagis yang tinggi berambut panjang dan kulitnya putih bersih. Pertemuanpun tidak lebih dari 5 menit.
Dari pertemuan yang hanya sekilas itu……(telah ku tulis di bagian lain) saat ini menjadi istriku yang sangat aku cintai. Aku memilih dia bukan karena kecantikan atau kepandaiannya. Melainkan dia begitu polos dan lugu juga karena kejujuran dan ibadahnya bagus.
Karena itulah, sehingga aku mengenal keluarganya mulai dari Mbah Dono kakek dari Munawar. Rering aku masa kecil itu bermain atau sekedar melihat sawah yang terbentang luas. Aku masih ingat bahwa Pak-e Mu mengerjakan sawah milik Nenek tidak digaji, tetapi sistim bagi hasil.
Sistim bagi hasil itu adalah berupa nenek menyediakan lahan dan Pak-e Mu menyediakan bibit tanaman dan menanam serta merawat sampai waktunya panen tiba, hasilnya dibagi antara nenek dangan Pak-e Mu, sedang pajaknya yang membayar adalah nenek.
Di kehidupan masa kecilkku, kebutuhan hidup keluarga bersumber dari pensiunan Mantri Guru dan hasil dari sawah. Karenan pensunan Mantri Guru dan tinggal di utara pasar sebutan untuk nenek yang tak asing lagi adalah mbah Mantri lor Pasar.
Adik Nenek yang berada di Tlumbung dikenal dengan panggilan Mbah Palang karena lahirnya di daerah Palang Tuban. Mbah Palang ini meninggalnya selisih 1 bulan dengan nenekku dengan hari yang sama dan jam hanya terpaut sedikit.
Setelah Nenek berpulang, penghasilan biaya hidup yang berkurang karena pensiun habis tidak dapat diwariskan, penggantinya berupa sewa lahan depan dan samping rumah tiap hari pasaran yaitu Kliwon.
Setiap kliwon, parkir sepeda cukup membludak karena tempat sangat strategis persis diseberang pasar Sumberrejo. Dari masukan uang parkir, saat itu dibagi tiga, pertama untuk penjaga (Hansip sekitar 5 orang), kedua Untuk keluargaku dan ke tiga untuk uang kas Desa.
Sekitar jam 13 wib, aku diberi mendapat uangjajan Rp 5 rupiah. Uang itu cukup besar bagi aku yang masih sekolah dio SD karena Rp 1,- rupiah bila dibelikan permen dapat 10 biji (sakarang 1 biji Rp 100,-).
Setelah diberi oleh bude ku (kakaknya ibu yang mengendalikan keuangan di keluarga) aku sering bermain ke sawah setelah sebelumnya membeli permen. Disawah itu aku sering bertemu dengan 2 anak perempuan kecil anaknya Pak-e Mu..
Saat itu aku selalu memperhatikan setiap gerak gerik 2 perempuan berbaju lusuh tetapi kulitnya putih bersih terutama yang kecil lebih putih dan lebih cantik. Seterusnya anak perempuan kecil yang lebih muda sering ikut ibunya kerumah. Hal itu bisa dikata rutin karena ibunya sering diminta tolong bude untuk menumbuk padi.
Menginjak tahun 1975, aku tak pernah ketemu lagi dengan mereka karena aku pindah ke Surabaya. Meski telah pindah, aku masih sering bertemu si gadis kecil yang makin besar dan tambah cantik. Gadis itu datang kerumah ikut ibunya memberikan hasil panen sawah yang dikerjakan oleh bapaknya.
Saat itu aku tak pernah berpikir kenapa yang sering ketemu hanya yang kecil dan yang bersar tak pernah ikut. Akupun tak pernah berfikir bagaimana dia saat itu. Pertemuan dengan yang gais yang besar baru terjadi di ketika dia sudah tumbuh menjadi sosok dagis yang tinggi berambut panjang dan kulitnya putih bersih. Pertemuanpun tidak lebih dari 5 menit.
Dari pertemuan yang hanya sekilas itu……(telah ku tulis di bagian lain) saat ini menjadi istriku yang sangat aku cintai. Aku memilih dia bukan karena kecantikan atau kepandaiannya. Melainkan dia begitu polos dan lugu juga karena kejujuran dan ibadahnya bagus.