DUA BENDA BERTUAH HILANG
Ketika aku masih kecil dirumah keluargaku yang cukup besar dengan halaman luas dan saat itu selain didirakan bangunan para penyewa 9 bangunan (4 ditempati usahan dan menetap dan 5 hanya digunakan aktifitas siang hari) masih bisa menampung parkir 500 sepeda lebih.
Di rumah Gebyog yang kutinggali terdapat beberapa benda peninggalan. Dua diantaranya berupa Udeng (ikat kepala) berbentuk segi tiga berwarna biru dongker dengan ornamen warna putih dan tanpa ada jahitan lipatan disisinya.
Benda itu merupakan benda paling tua yang ada didalam rumah peninggalan dari kakeknya kakeku. Sehingga di tahun 1972 benda yang pernah aku lihat itu usianya lebih dari 1 abad. Udeng itu tersimpan rapi di dalam almari yang depannya kaca dan diletakkan dikamar yang hanya disediakan kalau ada keluarga jauh datang dan menginap.
Sedang dikamar yang kutempati tidur bersama ibu dan bude, terdatat bambu warna hitam terdiri dari dua ros. Bambu yang menyerupai galar (bambu yang telah dibilah menjadi 8 bagian atau lebih, pada rosnya sangat halus sekali.
Bambu hitam yang tempatnya di pojok antara selatan dan timur, tak pernah dirawat, namun bambu yang kata ibu bahwa sejak ibu kecil sudah ada sering ku buat mainan.
Sepintas, bambu itu sama dengan bambu lain, bedanya bambu itu berwarna hitam kelam alami dan bobotnya lebih berat dibanding bambu lain dengan ukuran yang sama.
Selain perbadaan itu, bambu itu jika didirikan di tanah yang ada di halaman rumah akan berdiri tidak tumbang meski ada angin kencang. Istimewanya, meskipun saat itu aku masih bocah (anak-anak) kalau aku bilang timur hujan dan barat tidak, maka di timur rumahku akan hujan dan di barat rumat tidak, begitu juga sebaliknya.