Almarhum Bapak Anwar Arif Tak kan lupa dalam Ingatankau Ku:
DIGEMBLENG
PIMRED SURABAYA MINGGU
Koran Mingguan Berita Surabaya Minggu sebelum menempati kantor di Yos Sudarso (Gedung Purusa) sebelumnya di Jl. Kartini Surabaya. Ketika berkantor di Jl Yos Sudarso, aku mulai bergabung dan memulai menulis seputar seni dan budaya. (Sebelumnya tulisanku kukirim dan di muat Jawa Pos berkantor di Jl.Kembang Jepun.
Di Surabaya Minggu tahun 1983 ini pula aku makin mengenal dan memahami bagaimana menjadi seorang jurnalis yang baik. Almarhum bapak Anwar Arif ku nilai sangat jeli dan menghargai wartawannya.
Tradisi pertemuan setelah cetak dan menjelang beredar selalu digelar. Dalam pertemuan, semua wartanan diminta mengoreksi dari halaman 1 hingga 8, selanjutnya dibeber tentang berita yang layak dan tidak.
Setelah melakukan koreksi dan menyampaikan pendapat, para wartawan ditanya satu persatu “Untuk edisi mendatang kamu punya berita apa, kamu liput sendiri atau minta tim pendamping”
Ungkapan ini selalu disampaikan Bapak Anwar Arif kepada seluruh wartawan Mingguan Berita Surabaya Minggu sebelum koran yang malamnya dicetak untuk diedarkan
Dengan strategi tersebut, menjadikan Surabaya Minggu makin hari semakin berkembang dan di masa kejayaanannya tiap terbit tiap hari Kamis itu selalu diatas 150 ribu eksemplar. Kejayaan MB Surabaya Minggu pada jamannya Petrus (Penembak Misterius) sudah tidak asing lagi.
Pemberitaan yang meng expose temuan mayat korban Petrus, Surabaya Mingngu selalu membuat kejutan karena pemburu berita dari Surabaya Minggu (SM) memiliki jaringan kuat karena bocoran siapa korban berikutnya dan dimana mayatnya akan dibuang, Surabaya Minggu mendapat info tercepat.
Dengan kondisi demikian, Surabaya Minggu (SM) di cap oleh masyarakat sebagai koran merah. (pada waktu kantor redaksi di Jl. Yos Sudarso masih cetak hitam putih dan setelah pindah di Gubeng Airlangga terjadi perubahan beberapa judul diberi warna dengan dominasi merah).
Keharusan wartawan SM 1 minggu sebelum terbit telah melaporkan apa yang akan dijadikan berita, membuat almarhum Bapak Anwar Arif selalu tahu untuk edisi berikutnya akan menampilkan berita apa.
Kiat yang dilakukan beliau, merupakan bentuk persiapan yang sangat matang, khususnya dari segi layout. Perlu diketahui bahwa layout berita koran saat itu jauh berbeda dengan sekarang yang sangat mudah karena terbantu adanya komputer.
Layout saat itu menggunakan lembaran mika selebar koran yang dibentang diatas meja kaca dan dari bawah diberi lampu. Judul- judul berita Mesih mengandalkan rugos.
Sedang untuk isi berita dilakukan ke jasa setting yang munggunakan komputer sebelum era pentium termasuk foto. Sementara garis tepi berita menggunakan benang warna hitam yang dilengketkan dengan solasi.
Dari pukul 19.00 hingga pukul 02.00 menjelang cetak, wartawan SM mendapatkan jatah piket untuk melakukan koreksi secara bergiliran, tiap piket dilakukan 4 wartawan dengan 1 orang staf redaksi.
Pada pukul 2 malam, di SM bung Pranowo penanggung jawab disain grafis melaporkan kepada Bapak Anwar Arif dan sebelum materi diberangkatkan ke percetakan selalu di lakukan cek ulang.
Jika beliau berhalangan baru pengecekan dilakukan oleh wakilnya yaitu Bp Sujono (Saat ini menetap di Srengat Blitar) atau dilakukan oleh Bapak Subagio selaku redaktur pelaksana.
Dengan dilakukan piket, selain lebih mengakrapkan anrata wartawan dengan staf redaksi,juga mendidik ketelitian wartawan SM. Kondisi demikian tak heran hingga saat ini meski SM telah tinggal kenangan, personil Surabaya Minggu tetap kompak dan saling berhubungan.
Beberapa rekan Surabaya Minggu yang saat ini selalu komunikasi dengan aku diantaranya Madekur Setiyawan Pemimpin Redaksi Koran Investigasi terbitan Surabaya maupun Rudin Lotto mantan Pemret Palapa. Sedang Pujiono yang pernah di Segara FM Jl. Kartini Bangkalan maupun Yayak Dermawan Djaya telah berpulang karena sakit. Dan kawan lainya juga masih berhubungan terutama Bapak Sujono yang mempersunting gadis Srengat Blitar.
Kawan kawan lain dari Surabaya Minggu yang kebetulan membaca tulisanku ini tolong kabarkan dimana keberadaannya ke e-mailku : eyang_jothosuro@yahoo.co.id atau ke jatimnet@yahoo.co.id aku ingin selalu kompak seperti dahulu, meskipun tidak lagi satu media namun tetap saling komunikasi.
Hal itu karena dalam hatiku tak bisa melupakan Surabaya Minggu dan wejangan serta strategi almarmuh Bapak Anwar bagaimana cara agar media maju dan terus maju tetap gigih pada relnya yang tak mungkin aku jabarkan secara mendetail disini karena itu adalah bekal kita untuk memajukan media kita masing-masing.
Di Surabaya Minggu tahun 1983 ini pula aku makin mengenal dan memahami bagaimana menjadi seorang jurnalis yang baik. Almarhum bapak Anwar Arif ku nilai sangat jeli dan menghargai wartawannya.
Tradisi pertemuan setelah cetak dan menjelang beredar selalu digelar. Dalam pertemuan, semua wartanan diminta mengoreksi dari halaman 1 hingga 8, selanjutnya dibeber tentang berita yang layak dan tidak.
Setelah melakukan koreksi dan menyampaikan pendapat, para wartawan ditanya satu persatu “Untuk edisi mendatang kamu punya berita apa, kamu liput sendiri atau minta tim pendamping”
Ungkapan ini selalu disampaikan Bapak Anwar Arif kepada seluruh wartawan Mingguan Berita Surabaya Minggu sebelum koran yang malamnya dicetak untuk diedarkan
Dengan strategi tersebut, menjadikan Surabaya Minggu makin hari semakin berkembang dan di masa kejayaanannya tiap terbit tiap hari Kamis itu selalu diatas 150 ribu eksemplar. Kejayaan MB Surabaya Minggu pada jamannya Petrus (Penembak Misterius) sudah tidak asing lagi.
Pemberitaan yang meng expose temuan mayat korban Petrus, Surabaya Mingngu selalu membuat kejutan karena pemburu berita dari Surabaya Minggu (SM) memiliki jaringan kuat karena bocoran siapa korban berikutnya dan dimana mayatnya akan dibuang, Surabaya Minggu mendapat info tercepat.
Dengan kondisi demikian, Surabaya Minggu (SM) di cap oleh masyarakat sebagai koran merah. (pada waktu kantor redaksi di Jl. Yos Sudarso masih cetak hitam putih dan setelah pindah di Gubeng Airlangga terjadi perubahan beberapa judul diberi warna dengan dominasi merah).
Keharusan wartawan SM 1 minggu sebelum terbit telah melaporkan apa yang akan dijadikan berita, membuat almarhum Bapak Anwar Arif selalu tahu untuk edisi berikutnya akan menampilkan berita apa.
Kiat yang dilakukan beliau, merupakan bentuk persiapan yang sangat matang, khususnya dari segi layout. Perlu diketahui bahwa layout berita koran saat itu jauh berbeda dengan sekarang yang sangat mudah karena terbantu adanya komputer.
Layout saat itu menggunakan lembaran mika selebar koran yang dibentang diatas meja kaca dan dari bawah diberi lampu. Judul- judul berita Mesih mengandalkan rugos.
Sedang untuk isi berita dilakukan ke jasa setting yang munggunakan komputer sebelum era pentium termasuk foto. Sementara garis tepi berita menggunakan benang warna hitam yang dilengketkan dengan solasi.
Dari pukul 19.00 hingga pukul 02.00 menjelang cetak, wartawan SM mendapatkan jatah piket untuk melakukan koreksi secara bergiliran, tiap piket dilakukan 4 wartawan dengan 1 orang staf redaksi.
Pada pukul 2 malam, di SM bung Pranowo penanggung jawab disain grafis melaporkan kepada Bapak Anwar Arif dan sebelum materi diberangkatkan ke percetakan selalu di lakukan cek ulang.
Jika beliau berhalangan baru pengecekan dilakukan oleh wakilnya yaitu Bp Sujono (Saat ini menetap di Srengat Blitar) atau dilakukan oleh Bapak Subagio selaku redaktur pelaksana.
Dengan dilakukan piket, selain lebih mengakrapkan anrata wartawan dengan staf redaksi,juga mendidik ketelitian wartawan SM. Kondisi demikian tak heran hingga saat ini meski SM telah tinggal kenangan, personil Surabaya Minggu tetap kompak dan saling berhubungan.
Beberapa rekan Surabaya Minggu yang saat ini selalu komunikasi dengan aku diantaranya Madekur Setiyawan Pemimpin Redaksi Koran Investigasi terbitan Surabaya maupun Rudin Lotto mantan Pemret Palapa. Sedang Pujiono yang pernah di Segara FM Jl. Kartini Bangkalan maupun Yayak Dermawan Djaya telah berpulang karena sakit. Dan kawan lainya juga masih berhubungan terutama Bapak Sujono yang mempersunting gadis Srengat Blitar.
Kawan kawan lain dari Surabaya Minggu yang kebetulan membaca tulisanku ini tolong kabarkan dimana keberadaannya ke e-mailku : eyang_jothosuro@yahoo.co.id atau ke jatimnet@yahoo.co.id aku ingin selalu kompak seperti dahulu, meskipun tidak lagi satu media namun tetap saling komunikasi.
Hal itu karena dalam hatiku tak bisa melupakan Surabaya Minggu dan wejangan serta strategi almarmuh Bapak Anwar bagaimana cara agar media maju dan terus maju tetap gigih pada relnya yang tak mungkin aku jabarkan secara mendetail disini karena itu adalah bekal kita untuk memajukan media kita masing-masing.