CERMIN TRIO GURU
Tiga figur guru ku di SD I Sumberrejo Bojonegoro, yang tak dapat kulupakan hingga sekarang tak dapat kuhidupankan ku. Hal itu karena ketiganya memiliki karakter berbeda.
Yang pertama sifatnya lembut dan memiliki jiwa seni. Beliau selalu memberi pinutur kepadaku. Sehingga sejak tahun 1975 hingga 1995 meski aku menetap di Surabaya selalu ku sempatkan untuk mengunjungi beluai 1 kali dalam setahun.
Dengan pinutur yang diberikan, aku gunakan untuk menjadikan cermin dan kewaspadaan, sehingga aku dapat memiliki rem cakram jangan sampai aku menjadi sombong.
Yang kedua dia lebih banyak diam, namun santun dan bersikap apa adanya. Dengan sikap itu aku belajar banyak untuk tampil sebagai diriku apa adanya tanpa harus dibalut kepura-puraan.
Dengan figur yang dimiliki, sebagai rasa terimakasih, selama menetap di Surabata setiap ke Bojonegoro aku berupaya untuk dapat mengunjunginya.
Yang ke tiga, sikapnya yang keras tetapi tegas dan suara lantang mengilhami dalam kehidupanku dalam menempuh kehidupan sebagai insan pers untuk bertindak tegas dan tak ada kata kompromi untuk mengungkap sebuah kasus.
Dari beliau juga aku mendapatkan sebuah cermin berharga, cermin itu berupa sikap saat bertugas dan sikap diluar tugas tiada beda, tetap tegas dalam segala perilaku dibatasi rambu keimanan.
Beliau bertiga adalah Bapak Widodo , Bapak Paniyo sekarang masih menetap di Sumberrejo dan terakhir yang terakhir semakin berisi adalah Bapak Ariff Koiruman Hakim sekarang menetap di Bojonegoro kota.
Yang pertama sifatnya lembut dan memiliki jiwa seni. Beliau selalu memberi pinutur kepadaku. Sehingga sejak tahun 1975 hingga 1995 meski aku menetap di Surabaya selalu ku sempatkan untuk mengunjungi beluai 1 kali dalam setahun.
Dengan pinutur yang diberikan, aku gunakan untuk menjadikan cermin dan kewaspadaan, sehingga aku dapat memiliki rem cakram jangan sampai aku menjadi sombong.
Yang kedua dia lebih banyak diam, namun santun dan bersikap apa adanya. Dengan sikap itu aku belajar banyak untuk tampil sebagai diriku apa adanya tanpa harus dibalut kepura-puraan.
Dengan figur yang dimiliki, sebagai rasa terimakasih, selama menetap di Surabata setiap ke Bojonegoro aku berupaya untuk dapat mengunjunginya.
Yang ke tiga, sikapnya yang keras tetapi tegas dan suara lantang mengilhami dalam kehidupanku dalam menempuh kehidupan sebagai insan pers untuk bertindak tegas dan tak ada kata kompromi untuk mengungkap sebuah kasus.
Dari beliau juga aku mendapatkan sebuah cermin berharga, cermin itu berupa sikap saat bertugas dan sikap diluar tugas tiada beda, tetap tegas dalam segala perilaku dibatasi rambu keimanan.
Beliau bertiga adalah Bapak Widodo , Bapak Paniyo sekarang masih menetap di Sumberrejo dan terakhir yang terakhir semakin berisi adalah Bapak Ariff Koiruman Hakim sekarang menetap di Bojonegoro kota.