TERIMAKASIH TELAH BERKENAN HADIR DI SITUSKU INI.

Jumat, 10 September 2010

KERJA & HOBY
MENYATU DALAM HIDUPKU ?

    Sebagai seorang jurnalis, yang kuawali secara serius pada tahun 1983, saat itu rumah ibarat gardu. Pulang hanya sesaat dan waktuku lebih banyak diluar. Melanglang buana di penjuru Jawa Timur merupakan aktifitas rutin untuk mengais berita.
    Saat itu, dirumah rasanya hanya berfungsi sebagai tempan menyimpan barang dan pulang kalau ganti baju serta menggarap berita dengan mesin ketik manual. Bahkan tak jarang mesin ketik kubawa ke kantor Surabaya Minggu untuk mengerjakan berita.
    Meski demikian, saat itu waktuku tercurah untuk kuliah di Fakultas Hukum Universitas Tri Tunggal Surabaya, aktif di Gema MKGR, AMPI, KNPI, Golkar (Komlur Peneleh & Satgas Golkar Surabaya) juga membina seni teater disela-sela kesibukanku di Mingguan Berita Surabaya Minggu.
    Saat itu, kalau aku tak ada aktifitas, badan terasa sakit dan pikiran kacau, sehingga antara kerja dan cinta organisasi maupun mengais ilmu hukum dan hoby berkesenian menyatu dalam diriku.
    Saat ini, sejak tahun 1999 waktuku lebih banyak didepan computer. antara kerja dan hoby kembali menyatu dalam diriku. Bekerja pada saat mengedit berita kiriman anggota liputan dan jika editan habis maka aku menjelajah dunia maya tanpa batas.
    Kondisi demikian, diuniaku yang kian uzur aku masih belum membedakan antara kerja dan hoby karena menyatu denganku tiap hari. Jika jenuh teramat sangat maka sasaran utamaku adalah menghajar telinga di hingar bingarnya ruang disqotik, Surabaya yang ku tuju sejak dulu.
BAYANG BAYANG MENAKUTKAN
Dalam hidupku, ancaman senjata berupa celurit dan pistol serta spatu lars seperti aku masih ‘gentayangan’ tak jarang pulang dihadang celurit dan suatu saat dipanggil ke Koramil yang saat itu kondisinya ibarat ‘jamo moro jalmo mati’ tak ada keramahan seperti sekarang. Itu ketakutanku dulu dan masa telah terlewati.
    Sekarang........ ketakutanku bukan itu..... dalam hati aku terbisik kata ‘”Matiku bukan karena celurit atau pistol, tetapi matiku karena atas kehendak-Nya” Alhamdullillah, dengan amalan zikir yang kuperoleh dari Pondok Pesantren Suryalaya.... aku tak seperti dahulu lagi.
    Katakutan aku (tepatnya was-was dan ini wajar karena aku sebagai manusia biasa yang tak memiliki sertifikat masuk surga), usiaku yang kian uzur.... ekonomi yang compang camping......semoga anakku Azizah bisa hidup layak dan taat dalam menjalankan ibadah mengingat yang memberi nama pada anakku adalah seorang ulama besar.
    Mungkin seperti perasaan orang lain, jika aku ‘kembali kepada sang Maha Esa’ dan meninggalkan semuanya yang kucintai, semoga anakku bisa hidup tanpa kekurangan apapun dan tetap dalam jalan yang diridhoi Allah.SWT.

Wasiat Untuk Anakku Azizah

Pesan Wasiat Ku

Dalam melangkah ada awal perjalanan dan ada ujung tujuan dimana arah berjalan, demikian juga dengan kelahiran tentu ada kematian. Saat data kutulis ini usiaku telah lebih dari 50 tahun. Tentu....ibarat orang berjalan...... kemungkinan telah lebih dari 60 %  jarak yang ditempuh.
    Aku sadar bahwa mentari telah condong ke arah barat dan itu adalah ajalku mungkin kiat detat. tiap detik ajal semakin detat. Bila waktunya tiba, maka situs internet beralamat di http://jatimnet.blogspot.com (saat ini) dan mungkin akan berkembang, namun nama tetap yaitu Jatimnet Online.
    Situs berita Jawa Timur yang kuberi nama Jatimnet Online bila Allah.SWT memanggilku berpulang setiap saat, maka detik itu juga secara syah Jatimnet Online adalah dimiliki secara utuh 100% oleh AZIZAH dilahirkan tanggal 23 September 1996 yang saat ini menetap di Dusun Badug Desa Sumuragung Kecamatan Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro.
    Untuk posisi /Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi dipegang oleh Bayu Purnomo atau yang diberikan mandat olehnya dan saat ini menetap di Domasan Kalidawir Kabupaten Tulungagung dan menjadi wartawan Hapra Indonesia.
    Yang mengetahui passwort email serta id untuk mengedit situs tersebut adalah Direktur Koran Hapra Indonesia/hapraindonesia.com dan salah seorang keluarganya yang diketahui oleh beliau atau orang lain yang telah saya beritahu dan saya percaya.
    Harapanku, semoga Azizah bisa menjalani hidup dengan tetap berpegang teguh terhadap ajaran Islam dan jangan sampai ada keterunanku yang lepas dari Islam apapun alasannya. Hal ini karena yang memberi nama AZIZAH pada putri tunggalku adalah KH. Moch Ali Hanafiah yang saat ini memimpin Pondok Pesantrean Suryalaya wilayah Indonesia Timur berpusat di Surabaya.
    Bila kelah Azizah telah menikah dan aku telah berpulang, tolong keturunannya yang putri diberi nama awal Suciati. Kalau putra diberi nama  akhir Priyowidigdo.
Demikian permohonan yang aku sampaikan dan terima kasih kepada yang telah meluluskan permintaanku ini.
Wassalam
Alfakir

BAMBANG.WS
(Nama dewasa : Bambang.Winariyanto Sastraningrat )
(Nama lahir : R.Husna Pudjiana Priyowidigdo)
(Nama Panggilan : Mbah West)
(Nama samaran: Eyang Jothosuro  & Winari.ST)
Putra Tunggal pasangan R.Buchari (alm) asalj Rangkas Bitung Jawa Barat
dengan
Rr. Soetjiati (alm) Lahir di Bojonegoro
Curu dari R.Woewardi Priyowidigdo.(alm)

Kamis, 09 September 2010

AZIZAH  ANAKKU YANG SOLEH
Lahir Saat Gema Azan Berkumandang
    Pada tanggal 12 Nopember 1975 pukul 10.10 wib Munawaroh resmi menjadi istri ku, 12 jam kedepan dia menyerahkan tubuhnya seutuhnya dan sempat menangis memelukku karena bisa mempersembahkan miliknya yang masih murni di hari yang tepat.
    Sebelum aku petik, setelah menuaikan kewajiban sholat isa’ dia kusuruh menambah 2 roka’at dan memohon kepada Alloh apa yang akan dilakukan nanti selepas sholat akan menurunkan seorang anak yang soleh.
    Setelah dia menyatakan siap mempersembahkan miliknya paaku, dia ku suruh membaca fatekah 3X yang hanya dibatin. Kalau sudah selesai agar memberi kode meremas tanganku.
    ode yang diberikan telah aku rasakan, dengan mengucap bismilah ku lanjutkan Fatekah, selesai Fatekah langsung ku petik miliknya dan dibulan ke dua dari tanggal pernikahan, sepulang dari Puskesmas istriku langsung memelukku menangis bahagia karena dia hamil.
    ada tanggal 23 September 1996 bersamaan berkumandangnya gema azan di penjuru Sumberrejo, ku lihat bayi mungil keluar dari rahi istriku dan menangis. Melihat itu… aku meneteskan air mata rasa syukur aku telah sempurna karena memiliki seorang istri dan sejak saat itu aku menjadi seorang bapak dari anak yang dikandung istriku.
SEJARAH NAMA ANAKKU
AZIZAH
    Sejak istriku mengandung 3 bulan, aku telah menyiapkan nama Tori Qodiriyah Naqsa dengan panggilan Ria (untuk nama wanita, sedang nama laki-laki sama sekali aku tidak menyediakan). Anakku memakai nama Tori Qodiriyah Naqsa hingga beberapa bulan sampai bisa berdiri.
    aat berkunjung ke Pondok Pesantren Suryalaya Inabah 19 Surabaya, nama putriku diganti oleh Ustat KH Muhammad Ali Hanafiah (sekarang beliau memimpin Ponpes Suryalaya wilayah Indonesia Timur).
    ku saat itu memang sengaja mengajak istri dan putri tunggalku ke Pondok Pesantren Suryalaya Inabah 19 saat itu, nama putriku di ganti Azizah oleh KH Muhammad Ali Hanafiah.     aat aku memilih dan menulis nama untuk anakku yang masih didalam kandungan Munawaroh istriku dengan nama Tori Qodiriyah Naqsa karena aku mengikuti pondok Suryayala.
    ori Qodiriyah Naqsa adalah aku ambil dari Aliran Toreqat Qodiriyyah wan Naqshabandiyyah yang dianut Pomdok Pesantren Suryalaya pompinan KH Sohibulwafa Tajul Arifien (Abah Anom) di Desa Pager Agung Tanjungkerta Tasikmalaya Jawa Barat.
KISAH PERCINTAANKU
    uatu saat aku tiba-tiba ingan no telp tempat kerja seorang gadis bernama Munawaroh, Iseng-iseng aku mencoba untuk menelepon dan kebetulan dia sendiri yang menerima. Sejak pertama kontak telepon itu, keterusan sampai 2 minggu tiap siang dia ku telepon.
    alam telepon aku sempat bilang, “Dik, kamu aku jadikan istri aku ya”, jawabnya….”Mas ini kok aneh masak habis dengan adiknya sekarang kakaknya”. Akupun bilang, aku suka kamu di, aku ingin kamu jadi istri aku”
    capan itu baru dua hari dijawab “Mas apa tidak salah, aku ini orang bodoh masak pantes jadi istri ma” Akupun bilang, enggak karena dihadapan Allah bukan kepandaian yang dinilai tetapi keimanan.
Atas ucapan itu, dia bilang “Mas kalau memang serius, mas datang kerumah manta ke orang tuaku untukmenjadiakn aku istri mas” Aku bilang “OK, adik keluarlah dari kerjaan dan ayo pulang, adik aku lamar”
    ua hari seletah telepon itu, pagi-pagi aku langsung ke stasiun pasar turi untuk ke Bojonegoro, di stasiun aq semula mau telepon dan kluarkan uang koin untuk telp Munawaroh.
Belum sampai uang koin ku masukkan, ada cewek dateng langsung menggelandang tanganku dan bilang udah dibelikan karcis. Ternyata gadis itu Munawaroh. Dan keponakannya bernama Narti.
    i stasiun itu aku kaget juga, dia membawa 2 tas dan 2 barang cukup berat di dalam kardus tempat mie goreng. Aku disuruh bawa kardus…Berat juga, tetapi aku tak berani tanya isinya apa.
    elama perjalanan, mataku selalu mencuri-curi pandang memperhatikan dia rari wajah, tangan sampai kakinya dan dalam hati aku berkata “Ya Allah…. Inikah yang engkau berikan kepada ku untuk mendamipingi hidupku sebagai istri”
    ku mencuri-curi pandang, karena sebetulnya hari itu aku bertemu dia ke dua kali sejak idul fitri. Di saat idul fitri, aku ketemu dia tidak lebih dari 5 menit di rumahnya. Pertemuan singkat iru merupakan awal pertemuan sejak lebih dari 18 tahun bertemu dia.
    idalam kereta, aku baru baru tahu bahwa hari itu dia mengundurkan diri dari kerjanya dan pulang kampung karena aku meminta keluar kerja.
Singkatnya, setelah sore usai mahrib aku mmendatangi rumahnya (aku menginap dirumah temanku). Malam itu secara resmi aku meminta ke orang tuanya dengan disaksikan keluarga dan beberapa tetangga dekat
NO TILPUN DARI ADIKNYA
    Aku mendapat no tilpon Munawaroh dari adiknya yang bernama Esti, Sejak aku pindah ke Surabaya tahun 1975, paling tidak 3 atau 4 bulan sekali ketemu Esti yang saat itu masih bocah kecil, dia bertandang kerumahku dengan ibunya, sedang Munawaroh tak pernah ikut.
    No tilpun itu diberikan ke aku di hari Idul fitri. Dia ingin dolan ke rumahku, aku bilang kabari lewat surat dulu, kaan mau ke Surabaya, kalau sudah sampai terminal agar menelepon untuk aku jemput.
    Dari obrolan malam di hari raya fitri itu, setelah Esti memberi nomor telepon barulah Munawaroh datang entah dari mana dan Esti bilang kalau itu nomor telepun tempak kakaknya itu bekerja.
    Setelah aku menerima no tilpun, aku ketemu Esti saat melamar Munawaroh. Dan setelah selesai acara lamaran, aku balik ke teman ku. Esok malam aku kerumahnya lagi dan ngobrol panjang lebar.
    Ketika malam kian larut, aku dan Munawaroh dari ruang tamu pindah duduk di kursi panjang yang ada didepan rumah. Di tempat itu, malam itu… meski aku sudah melamar baru saat itu aku mencium bibirnya untuk yang pertama kali.
    Dihari selanjutnya tiap malam minggu aku menyempatkan datang kerumahnya dan mencari kesampatan bermesraan. Hingga waktu berlakan 1 bulan lebih sedikit aku tak datang lagi hanya berkirim surat karena kesibukanku kegiatan sebagai Satgas Golkar dan aktifitas di Gema MKGR Surabaya.
    Aku yang telah melamar (meminang) Munawaroh belum memberikan kabar ke keluargaku. Pada hari minggu saat aku baru pulang dari kegiatan Golkar dan baru saja melepas sepatu, Munawarohm ibuk dan kakaknya datang.
    Kehadirannya membuat aku kelabakan karena tak ada persiapan juga belum memberi tahu keluarga. Namun akhirnya dalam pertemuan itu disepakati kalau 2 bulan lagi akan datang ke rumahnya untuk menentukan hari pernkahan.
    Karena kedua keluarga sudah tahu tentang hubungan kami, maka aku semakin sering ke Bojonegoro untuk lebih pendekatan sekaligus bermesraan. Saat dia begitu lama aku cium dan ku raba, dia bialng “Begini ini ya mas rasanya bercinta”
    Ucapan itu aku jawab singkat “Iya” dalam hati aku bersyukur dapat calon istri yang belum tersentuh lelaki, Dalam berciuman pun dia kaku tak ada pengalaman. Keadaan itu aku sangat senang karena aku bisa tahu bahwa lelaki pertama memesrainya adalah aku.
    Tepat pada hari yang telah ditentukan, aku dan rombongan keluarga datang ke rumahnya untuk menentukan hari pernikahan. Setelah berunding dan sepakat dua bulan kemudian adalah rari pernikahan (12 Nopember 1975), rombongan keluarga kembali kesurabaya.
    Aku sejak penentuan yang dihariri seluruh keluarga serta pengurus kampung, aku tidak ikut kembali ke Surabaya dan malamnya merupakan malam pertama aku bisa tidur satu ranjang dengan Munawaroh.
    Pertama kali masuk kamar akan tidur…. Dia bingung dan takut namun dipaksakan naik dan tidur membelakangiku, dia mulai aku cumbu….Aku perlakukan begitu dia ketakutan dan keluar kamar masuk di kamar ibunya yang tidur dengan Esti.
    Dari balik dinding bambu, ku dengar ibu nya marah dan bilang… “Itu sudah kewajibpanmu karena kamu sudah diminta, sana kembali lagi ke kamararmu, dia calon suamimu”.
    Aku yang mendapat angin, aku pura pura tidur, dia menyusul dan balik di posisi semula. Maka sejak itu…. Ya begitulah….Namun aku tetap menjaga kegadisannya sampai dua bulan kemudian hubungan kami resmi dunia akhirat.
Munawaroh meski bersedia ku perawani sebelum pernikahan dan pasrahtak ku lakukan. Aku takut tragedi keponakanku terulang. Keponakanku yang sudah melakukan hubungan dan pernikahan tinggal 1 bulan lagi, calon suaminya meninggal akibat kecelakaan. Sementara itu di perut keponakanku telah tumbuh janis.
    al itu jangan terulang ke Munawaroh, kepadanya aku bilang… tak akan aku petik sebelum resmi, tetapi setelah pernikahan berlangsung aku tak perduli kondisnya akan aku minta.
CERMIN TRIO GURU
    Tiga figur guru ku di SD I Sumberrejo Bojonegoro, yang tak dapat kulupakan hingga sekarang tak dapat kuhidupankan ku. Hal itu karena ketiganya memiliki karakter berbeda.
Yang pertama sifatnya lembut dan memiliki jiwa seni. Beliau selalu memberi pinutur kepadaku. Sehingga sejak tahun 1975 hingga 1995 meski aku menetap di Surabaya selalu ku sempatkan untuk mengunjungi beluai 1 kali dalam setahun.
    Dengan pinutur yang diberikan, aku gunakan untuk menjadikan cermin dan kewaspadaan, sehingga aku dapat memiliki rem cakram jangan sampai aku menjadi sombong.
Yang kedua dia lebih banyak diam, namun santun dan bersikap apa adanya. Dengan sikap itu aku belajar banyak untuk tampil sebagai diriku apa adanya tanpa harus dibalut kepura-puraan.
    Dengan figur yang dimiliki, sebagai rasa terimakasih, selama menetap di Surabata setiap ke Bojonegoro aku berupaya untuk dapat mengunjunginya.
    Yang ke tiga, sikapnya yang keras tetapi tegas dan suara lantang mengilhami dalam kehidupanku dalam menempuh kehidupan sebagai insan pers untuk bertindak tegas dan tak ada kata kompromi untuk mengungkap sebuah kasus.
    Dari beliau juga aku mendapatkan sebuah cermin berharga, cermin itu berupa sikap saat bertugas dan sikap diluar tugas tiada beda, tetap tegas dalam segala perilaku dibatasi rambu keimanan.
Beliau bertiga adalah Bapak Widodo , Bapak Paniyo sekarang masih menetap di Sumberrejo dan terakhir yang terakhir semakin berisi adalah Bapak Ariff Koiruman Hakim sekarang menetap di Bojonegoro kota.
TAHUN 1960 - 1975
    Aku yang diciptakan dari setetes air yang menjijikkan buah cinta R. Boechari dan Rr Soetjiati merasa sangat bersyukur sampai saat ini aku masih bisa seperti ini.
    Sejak keluar rahim ibunda Soetjiati pada tanggal 29 Agustus 1960, orang-orang yang mencintaiku satu persatu dipanggil Allah.SWT, sacara berurutan.
    Pertama sebelum aku menikmati bangku sekolah Taman Kakak Kanak Mardisiwi Sumberrejo ayahku telah berpulang, Nenekku menyusul di tahun 1972, satu bulan kemudian tepat di hari serta jam yang sama adik nenek menyusulnya.
    Sedang ketika aku kelas 4 di SDN Sumberrejo 1, ibundaku berpulang disiang hari sekitar pukul 14.00 saat aku mendapat giliran memberi makan kambing di sekolahan meninggalkanku menghadap Ilahi.
TAHUN 1976 – 1999
    Ditahun pertama aku resmi menjadi warga Surabaya, Budeku (kakak kandung ibu) berpulang ketika aku lulus SD, beliau dimakamkan di pemakaman rangkah Surabaya. Selanjutnya, Ketika aku masih di SLTA, R.Soekartono (Kakak kandung ibuku sekaligus ayah angkatku) berpulang dan beliau dimakamkan di pemakaman Tembok Surabaya.
    Sedang pada saat usia pernikahanku memasuki tahun ke 4, Pamamku purnawirawan Letkol Drs.Alam Harjo (mantan Danwing III Kopasgat dan anggota dewan di DPR Gresik) dipanggil Ilahi sekitar pukul 19.00 saat aku masih bekerja di Café Lesehan Surya).
    Saat aku menjadi wartawan Nanggala untuk liputan Bojonegoro, Rr. Koesmijati istri R.Soekartono) menyusul dipanggil Allah. Keduanya dimakamkan di Makam Tembok berdampingan dengan Paman Alam Harjo.
       Pada Saat aku dirumah menjelang berdirinya Radio Permata DC, kakak kandung mertuaku berpulang dan suaminya menyusul tak jauh waktunya dengan pemilu 2009

Anwar Arif Dalam Kenangan Ku

Almarhum Bapak Anwar Arif Tak kan lupa dalam Ingatankau Ku:
DIGEMBLENG
PIMRED SURABAYA MINGGU
    Koran Mingguan Berita Surabaya Minggu sebelum menempati kantor di Yos Sudarso (Gedung Purusa) sebelumnya di Jl. Kartini Surabaya. Ketika berkantor di Jl Yos Sudarso, aku mulai bergabung dan memulai menulis seputar seni dan budaya. (Sebelumnya tulisanku kukirim dan di muat Jawa Pos berkantor di Jl.Kembang Jepun.
    Di Surabaya Minggu tahun 1983 ini pula aku makin mengenal dan memahami bagaimana menjadi seorang jurnalis yang baik. Almarhum bapak Anwar Arif ku nilai sangat jeli dan menghargai wartawannya.
    Tradisi pertemuan setelah cetak dan menjelang beredar selalu digelar. Dalam pertemuan, semua wartanan diminta mengoreksi dari halaman 1 hingga 8, selanjutnya dibeber tentang berita yang layak dan tidak.
    Setelah melakukan koreksi dan menyampaikan pendapat, para wartawan ditanya satu persatu “Untuk edisi mendatang kamu punya berita apa, kamu liput sendiri atau minta tim pendamping”
    Ungkapan ini selalu disampaikan Bapak Anwar Arif kepada seluruh wartawan Mingguan Berita Surabaya Minggu sebelum koran yang malamnya dicetak untuk diedarkan
    Dengan strategi tersebut, menjadikan Surabaya Minggu makin hari semakin berkembang dan di masa kejayaanannya tiap terbit tiap hari Kamis itu selalu diatas 150 ribu eksemplar. Kejayaan MB Surabaya Minggu pada jamannya Petrus (Penembak Misterius) sudah tidak asing lagi.
    Pemberitaan yang meng expose temuan mayat korban Petrus, Surabaya Mingngu selalu membuat kejutan karena pemburu berita dari Surabaya Minggu (SM) memiliki jaringan kuat karena bocoran siapa korban berikutnya dan dimana mayatnya akan dibuang, Surabaya Minggu mendapat info tercepat.
    Dengan kondisi demikian, Surabaya Minggu (SM) di cap oleh masyarakat sebagai koran merah. (pada waktu kantor redaksi di Jl. Yos Sudarso masih cetak hitam putih dan setelah pindah di Gubeng Airlangga terjadi perubahan beberapa judul diberi warna dengan dominasi merah).
    Keharusan wartawan SM 1 minggu sebelum terbit telah melaporkan apa yang akan dijadikan berita, membuat almarhum Bapak Anwar Arif selalu tahu untuk edisi berikutnya akan menampilkan berita apa.
    Kiat yang dilakukan beliau, merupakan bentuk persiapan yang sangat matang, khususnya dari segi layout. Perlu diketahui bahwa layout berita koran saat itu jauh berbeda dengan sekarang yang sangat mudah karena terbantu adanya komputer.
    Layout saat itu menggunakan lembaran mika selebar koran yang dibentang diatas meja kaca dan dari bawah diberi lampu. Judul- judul berita Mesih mengandalkan rugos.
    Sedang untuk isi berita dilakukan ke jasa setting yang munggunakan komputer sebelum era pentium termasuk foto. Sementara garis tepi berita menggunakan benang warna hitam yang dilengketkan dengan solasi.
    Dari pukul 19.00 hingga pukul 02.00 menjelang cetak, wartawan SM mendapatkan jatah piket untuk melakukan koreksi secara bergiliran, tiap piket dilakukan 4 wartawan dengan 1 orang staf redaksi.
    Pada pukul 2 malam, di SM bung Pranowo penanggung jawab disain grafis melaporkan kepada Bapak Anwar Arif dan sebelum materi diberangkatkan ke percetakan selalu di lakukan cek ulang.
    Jika beliau berhalangan baru pengecekan dilakukan oleh wakilnya yaitu Bp Sujono (Saat ini menetap di Srengat Blitar) atau dilakukan oleh Bapak Subagio selaku redaktur pelaksana.
    Dengan dilakukan piket, selain lebih mengakrapkan anrata wartawan dengan staf redaksi,juga mendidik ketelitian wartawan SM. Kondisi demikian tak heran hingga saat ini meski SM telah tinggal kenangan, personil Surabaya Minggu tetap kompak dan saling berhubungan.
    Beberapa rekan Surabaya Minggu yang saat ini selalu komunikasi dengan aku diantaranya Madekur Setiyawan Pemimpin Redaksi Koran Investigasi terbitan Surabaya maupun Rudin Lotto mantan Pemret Palapa. Sedang Pujiono yang pernah di Segara FM Jl. Kartini Bangkalan maupun Yayak Dermawan Djaya telah berpulang karena sakit. Dan kawan lainya juga masih berhubungan terutama Bapak Sujono yang mempersunting gadis Srengat Blitar.
    Kawan kawan lain dari Surabaya Minggu yang kebetulan membaca tulisanku ini tolong kabarkan dimana keberadaannya ke e-mailku : eyang_jothosuro@yahoo.co.id atau ke jatimnet@yahoo.co.id aku ingin selalu kompak seperti dahulu, meskipun tidak lagi satu media namun tetap saling komunikasi.
    Hal itu karena dalam hatiku tak bisa melupakan Surabaya Minggu dan wejangan serta strategi almarmuh Bapak Anwar bagaimana cara agar media maju dan terus maju tetap gigih pada relnya yang tak mungkin aku jabarkan secara mendetail disini karena itu adalah bekal kita untuk memajukan media kita masing-masing.
ANAKKU MIRIP SEKALI DENGAN IBUKU
    Munawaroh setelah kupersunting dan saat hangat-ngangatnya ‘menterjema’ahkan’ tanda cinta, sebelum oleh dokter istiku dinyatakan positif mengandung, istriku bercerita dalam mimpinya bertemu ibuku dan diberi sandal hanya sebelah kanan.
    Apa arti mimpi, saat itu aku belum memngerti, aku anggab itu adalah bunga tidur karena tiap malam istriku selalu menunaikan kewajibannya sebagai istri terhadap suami.
    Setelah melahirkan dan melihat kalau Azizah (Ayis) mirip sekali dengan ibuku yang dikatakan para tetangga seusia ibuku dan kenal masa kecilnya ibuku. Istriku pun sampai saat ini heran kalau tingkah polahnya Ayis mirip sekali dengan ibuku.
    Kebiasaan ibu dahulu selalu mencicipi bumbu untuk membuat sayur dan mencicipi sayur yang baru masak ditaruh di lepek (alas gelas/cangkir), saat ini juga dilakukan oleh Ayis. Akupun merasa kalau Ayis sangat mirip saat ibuku masih anak-anak seusia Ayis.
    Rasa penasaranku, akhirnya kutuangkan dengan menyatukan foto ibuku dan Ayis yang saat di foto usianya tak terpaut jauh.
    Kalau diperhatikan foto yang beda generasi, dua sosok yang ada didalam foto adalah saudara kembar. (sengaja foto Aziizah) aku buat hitam putih menyesuaikan foto ibuku yang ketika itu belum ada foto berwarna).
    Foto yang kupajang dilayar monitor tempat aku bekerja, kawan-kawanku semula mengira itu adalah foto Azizah dan saudarabya, setelah aku jelaskan baru mengangguk-angguk dan memahami serta berkata bahwa pada jaman itu sangat jarang orang foto.
    Tentang kemiripan foto Azizah dengan neneknya, diungkap juga oleh Yulianik asal Malang yang menjadi TKW di Hongkong. Yuli mengatakan membuka situs pribadiku dari Hongkong dan melihat foto Azizah dan Ibuku dikatakan sangat mirip sekali.
    Sementara itu, kalau aku perhatikan anakku dengan seksama, dari bentuk jari jemari tangn dan kali serta alis maupun bibir dan hidung juga ada kemiripan denganku. Warna kulit anakku juga persis dengan warna kulit ibuku.
MAKAM LELUHUR KU
DARI ABDI DALEM MATARAM (?)
    Ketika aku menetap di Undaan Peneleh gang 6 no 35 Surabaya dan sangat serius mendalami seni teater (drama) baik sebagai pimpinan, pelatih maupun penulis cerita sekaligus sutradara.
    Aku sempat bertanya-tanya, keluargaku dari semua kakaknya ibu tidak ada yang senang berkesenian, kok aku sanang dan sangat gandrung seni (terutama nonton wayang kulit versi Surakarta).
    Pertanyaan yang hanya berputar-putar dari hati ke otak bolak balik, akhirnya ada keluarga (bisa aku panggil Mbak) dia menyanggah pendapatku keliru besar. Dia yang akhirnya biang kalau mau diurut dia itu yang benar aku harus memanggil tante.
    Mbak (Tante) Rum yang tinggal di Jl. Tuban Surabaya saat bertangang ke rumah Undaan Peneleh mengatakan bahwa aku ini ada sumbernya yang menyenangi seni, yaitu entah generasi keberapa diatas ibuku.
    Beliau mengatakan “Kalau kamu ingin tahu siapa dan dari mana asal usulmu (kita) carilah makam yang lokasinya dari arah Bojonegoro ke utara agak ke barat. Kalau ketemu makam dari tumpukan batu bata besar berukuran panjang dikelilingi pohon besar dan banyak burung beterangan. Datangi dan heningkan cipta untuk berdo’a” Ujarnya.
    Beliau menambahkan “Kalau kamu mulai duduk dan semua burung berhenti berkicau serta hanya diam bertengger di dahan proh rindang mengelilingi makam. Juru kunci yang hanya menerima derma dari pengunjung dimakam itu akan sangat bahagia dan menghormatimu” ungkapnya.
    “Karena kejadian bila ada yang berdo’a dimakam itu dan semua burung berhenti berkicau secara tiba serta udara sumilir lembut juga sinar matahari terasa meredup, maka yang datang itu adalah memiliki garis keturunan dari tokoh yang dimakamkan disitu” tambahnya.
    Ucapan Mbak (Tante) Rum di pertegas supaya aku menyempatkan mencari makam itu, namun saat itu aku Cuma bengong mendengar penjelasannya dan aku hanya mengangguk saja. Karena dengan intonasi yang di pertegas juga dikatakan bahwa di makam itu tak ada satupun burung yang berani terbang melintas diatas mekam, kalau ada maka burung itu akan binasa mendadak.
    Belum sempat aku meminta keterangan kira-kira dimana makam itu berada serta siapa nama yang dimakamkan, tiga hari setelah memberitahuku, putri pertamanya (beliau memiliki anak putri semua dan cantik-cantik) datang kerumah sekitar jam 9 pagi mengabarkan bahwa ibunya meninggal dunia secara mendadak.
    Karena hanya mendapat penjelasan yang belum selesai itu, aku terkatung-katung harus kepada siapa bertanya dan apa yang diucapkan almarhum Mbak (Tante) selalu terngiang ditelinga bertahun-tahun lamanya.
    Selama bertahun-tahun pula aku berkhayal membayangkan gambaran tentang makam tua itu. Setelah aku menikah dan Azizah kelas 6 SD, baru aku menemukan seseorang yang menjelaskan sangat detail tentang makam itu.
    Dalam penjelasannya, diungkap kalau tokoh yang dimakamkan disitu dahulunya bentuk wajah dan postur tubuhnya sangat mirip denganku. Beliau janga mengetahui tentang udeng dan bambu hitam yang pernah kulihat saat aku masih kecil secara rinci sekali.
    Figur seperti seseorang yang memberi penjelasan padaku, setelah kucari lebih dari 20 tahun lalu, baru kutemukan dan figur beliau memang yang selama ini kucari. Beliau begitu tahu persis siapa aku. Rasanya dihadapan beliau aku seperti ditelanjangi, tak ada setitikpun yang terlewaktan tentang siapa aku, beliau mengetahui.
    Ingin aku sebetulnya menorehkan nama beliau, namun saat kutulis kalimat ini…. Aku melihat sbayangan sosok beliau memakai baju jenis kain jas warna hitam berlengan pendek memandanku dan mengatkan, ndak usah disebutkan, itu cukup aku saja yang mengetahui.
    Pesannya yang hanya kudengar dalam hati “Kapan-kapan kalau ada rejenik dan kesempatan bisa kesana menyaksikan bagaimana ujut makam itu. Makam itu bebatuan dari bata berwarna merah agak kehitam-hitaman dan ditumbuhi tanaman menyerupai lumut dengan batu nisan besar terbuat dari batu kapur putih yang sekarang kondisinya masih utuh.
    Suasana makam itu masih alami saat ini tetapi sekitar makam sangat bersih dari daun yang berguguran karena daun2 itu disapu angin. Dikatakan beliau juga bahwa juru kunci itu adalah turun temurun dan pertama kali yang jadi juru kunci adalah sahabat dekat tokoh yang dimakamkan disitu, di gantikan putranya dan ke putaranya hingga sekarang.
DUA KERIS BERONTAK
DI DALAM LEMARI
    Masih sangat ku ingat, ketika nenek masih ada, di kamar nenek (setelah meninggal kamar hanya digunakan untuk tidur tamu dan biasanya keluarga yang menginap) terdapat 2 keris kembar. Selongsong keris terbuat dari logam warna kuning.
Selongsong keris itu aku tidak tahu emas atau kuningan, yang kuingat selama aku tahu warnanya tidak pernah berubah. Sedang pada tempat pegangan terbungkus kain putih yang mirip selendang hanya dibalutkan saja.
    Setelah nenek meninggal, dua pasang keris itu ber ulah, bila menyimpannya di tidurkan dan tertutup benda (misalnya baju) maka pada malam hari didalam lemari terdengan suara ‘glodag-glodag’. Aku yang mendengar langsung bilang ke bude “De…. Keris dilemari tertimpa baju itu lho”.
    Bu de ku yang mendengar permintaanku, meski ngantuk menuju ke kamar bekas ditempati nenek dan membuka lemari memindah baju yang menimpa keris.
Selama barang yang menimpa keris tidak disingkirkan, maka setiap yang ada dirumahku akan tidur maka dari dalam lemari selalu mengeluarkan suara yang mirip benda hidup minta keluar dari dalam kotak.
    Dua buah keris kembar itu pada akhirnya diminta kakaknya ibu dan dibawa ke Surabaya, katanya untuk dirawat sebab di rumah Sumberrejo tidak ada yang merawat.
Yang aku menyesal sampai saat ini, dibawah keris itu terdapat 4 buah benda mirip selendang dengan terdapat ronce-ronce dari logam warna kuning. Karena aku saat itu masih anak-anak, aku tak tahu benda apa namanya, sering ku curi roncenya ku ambil satu demi satu dengan cara mencabut.
    Satu batang ronce yang ukurannya sekitar 10 cm besarnya hampir sama dengan pentil dan berupa serat logang yang dipilin. Ketika kurarik, menjadi sehelai logam seperti kawat berwarna kuning panjangnya sekitar 2 meter.
    Benda mirip sabuk beronce itu akhirnya kemana aku juga tak tahu. Setelah besar ini baru ku sesali karena benda itu ternyata usianya hampir sama dengan keris dan udeng (ikat kepala). Ada yang mengatakan bahwa benda tersebut merupakan sebuah simbul yang dipakai abdi dalem kerajaan Mataram.
    Bentuk lilitan koncer kuning dan warna tenun pada kain yang terdapat cap dari prada (warna emas) disa ditilik oleh yang melihat bahwa pemakai simbul itu berpangkat apa atau punya wewenang ada di kerajaan Mataram.
DUA BENDA BERTUAH HILANG
   
Ketika aku masih kecil dirumah keluargaku yang cukup besar dengan halaman luas dan saat itu selain didirakan bangunan para penyewa 9 bangunan (4 ditempati usahan dan menetap dan 5 hanya digunakan aktifitas siang hari) masih bisa menampung parkir 500 sepeda lebih.
    Di rumah Gebyog yang kutinggali terdapat beberapa benda peninggalan. Dua diantaranya berupa Udeng (ikat kepala) berbentuk segi tiga berwarna biru dongker dengan ornamen warna putih dan tanpa ada jahitan lipatan disisinya.
    Benda itu merupakan benda paling tua yang ada didalam rumah peninggalan dari kakeknya kakeku. Sehingga di tahun 1972 benda yang pernah aku lihat itu usianya lebih dari 1 abad. Udeng itu tersimpan rapi di dalam almari yang depannya kaca dan diletakkan dikamar yang hanya disediakan kalau ada keluarga jauh datang dan menginap.
    Sedang dikamar yang kutempati tidur bersama ibu dan bude, terdatat bambu warna hitam terdiri dari dua ros. Bambu yang menyerupai galar (bambu yang telah dibilah menjadi 8 bagian atau lebih, pada rosnya sangat halus sekali.
    Bambu hitam yang tempatnya di pojok antara selatan dan timur, tak pernah dirawat, namun bambu yang kata ibu bahwa sejak ibu kecil sudah ada sering ku buat mainan.
    Sepintas, bambu itu sama dengan bambu lain, bedanya bambu itu berwarna hitam kelam alami dan bobotnya lebih berat dibanding bambu lain dengan ukuran yang sama.
    Selain perbadaan itu, bambu itu jika didirikan di tanah yang ada di halaman rumah akan berdiri tidak tumbang meski ada angin kencang. Istimewanya, meskipun saat itu aku masih bocah (anak-anak) kalau aku bilang timur hujan dan barat tidak, maka di timur rumahku akan hujan dan di barat rumat tidak, begitu juga sebaliknya.
SAKIT HATIKU TERHADAP GOLKAR
BELUM TEROBATI
    Menjelang pernikahanku dengan Munawaroh, aku masih aktif sebagai anggota Komlur Golkar Kelurahan Peneleh Kecamatan Genteng Surabaya. Karena aku pindah domisili, maka aku menundurkan diri dari kepengurusan. Pengunduran diriku baru 10 bulan dikabulkan secara resmi dengan surat keputusan.
    Saat surat keputusan itu telah aku terima, istriku ku ajak berkunjung ke kantor kelurahan, Kecamatan dan Kantor Polsek untuk pamit karena pindah domilisi. Saat dikantor Kelurahan Peneleh dihadapan istriku dijanjikan dalam waktu dekat akan diberi tali asih bantuan dana sebesar Rp 100 ribu.
    Mendengar hal itu sangat senang sekali. Namun kenyataannya dana itu tak pernah turun dan dipikir oleh istriku uang itu telah aku terima, akhirnya aku carikan jalan lain dan kuberikan ke istriku uang Rp 100 ribu aku bilang dari Golkar.
    Peristiwa itu sungguh menyakitkan hati, andai tidak janji tak ada masalah, namun janji dihadapan istriku dan tanpa terealisasi…. Golkar sungguh keterlakuan dan sangat menyakitkan hatiku saat itu. Dari detik itu sampai kutulis aku tak pernah lagi berhubungan dengan Golkar.
    Karena sakit hati itu pula sejak aku kembali menjadi wartawan sampai sekarang aku tidak pernah meliput kegitan yang dilakukan Golkar. Kejadian itu dalam benakku tertanam “Golkar itu Sadis” Ujung tombak pengurus yang paling bawah cukup diberi janji tak perlu ada bukti karena mungkin dianggab tidak berguna lagi oleh Golkar “……Oh…. Golkar….Golkar…. Cek mentolomen….yoooo…yoooo… Gak kenek dibelani…..Dadi Satgas..sepatu… yo bondo dhewe….”
AKU DAN ISTRIKU
KETIKA ANAK ANAK
    Ketika aku masih di Sumberrejo dan belum pindah ke Surabaya, keluargaku memiliki sawah cukup luas lebih dari satu tempat, salah satunya dikerjakan oleh Pak Sardi yang lebih akap dipanggil Pak-e Mu (bapaknya Mu) karena anak pertamanya bernama Munawar)
    Karena itulah, sehingga aku mengenal keluarganya mulai dari Mbah Dono kakek dari Munawar. Rering aku masa kecil itu bermain atau sekedar melihat sawah yang terbentang luas. Aku masih ingat bahwa Pak-e Mu mengerjakan sawah milik Nenek tidak digaji, tetapi sistim bagi hasil.
    Sistim bagi hasil itu adalah berupa nenek menyediakan lahan dan Pak-e Mu menyediakan bibit tanaman dan menanam serta merawat sampai waktunya panen tiba, hasilnya dibagi antara nenek dangan Pak-e Mu, sedang pajaknya yang membayar adalah nenek.
    Di kehidupan masa kecilkku, kebutuhan hidup keluarga bersumber dari pensiunan Mantri Guru dan hasil dari sawah. Karenan pensunan Mantri Guru dan tinggal di utara pasar sebutan untuk nenek yang tak asing lagi adalah mbah Mantri lor Pasar.
Adik Nenek yang berada di Tlumbung dikenal dengan panggilan Mbah Palang karena lahirnya di daerah Palang Tuban. Mbah Palang ini meninggalnya selisih 1 bulan dengan nenekku dengan hari yang sama dan jam hanya terpaut sedikit.
    Setelah Nenek berpulang, penghasilan biaya hidup yang berkurang karena pensiun habis tidak dapat diwariskan, penggantinya berupa sewa lahan depan dan samping rumah tiap hari pasaran yaitu Kliwon.
    Setiap kliwon, parkir sepeda cukup membludak karena tempat sangat strategis persis diseberang pasar Sumberrejo. Dari masukan uang parkir, saat itu dibagi tiga, pertama untuk penjaga (Hansip sekitar 5 orang), kedua Untuk keluargaku dan ke tiga untuk uang kas Desa.
    Sekitar jam 13 wib, aku diberi mendapat uangjajan Rp 5 rupiah. Uang itu cukup besar bagi aku yang masih sekolah dio SD karena Rp 1,- rupiah bila dibelikan permen dapat 10 biji (sakarang 1 biji Rp 100,-).
    Setelah diberi oleh bude ku (kakaknya ibu yang mengendalikan keuangan di keluarga) aku sering bermain ke sawah setelah sebelumnya membeli permen. Disawah itu aku sering bertemu dengan 2 anak perempuan kecil anaknya Pak-e Mu..
    Saat itu aku selalu memperhatikan setiap gerak gerik 2 perempuan berbaju lusuh tetapi kulitnya putih bersih terutama yang kecil lebih putih dan lebih cantik. Seterusnya anak perempuan kecil yang lebih muda sering ikut ibunya kerumah. Hal itu bisa dikata rutin karena ibunya sering diminta tolong bude untuk menumbuk padi.
    Menginjak tahun 1975, aku tak pernah ketemu lagi dengan mereka karena aku pindah ke Surabaya. Meski telah pindah, aku masih sering bertemu si gadis kecil yang makin besar dan tambah cantik. Gadis itu datang kerumah ikut ibunya memberikan hasil panen sawah yang dikerjakan oleh bapaknya.
    Saat itu aku tak pernah berpikir kenapa yang sering ketemu hanya yang kecil dan yang bersar tak pernah ikut. Akupun tak pernah berfikir bagaimana dia saat itu. Pertemuan dengan yang gais yang besar baru terjadi di ketika dia sudah tumbuh menjadi sosok dagis yang tinggi berambut panjang dan kulitnya putih bersih. Pertemuanpun tidak lebih dari 5 menit.
    Dari pertemuan yang hanya sekilas itu……(telah ku tulis di bagian lain) saat ini menjadi istriku yang sangat aku cintai. Aku memilih dia bukan karena kecantikan atau kepandaiannya. Melainkan dia begitu polos dan lugu juga karena kejujuran dan ibadahnya bagus.

DATA PILIHAN

Situs yang sedang anda kunjungi ini adalah situs yang mengungkap siapa diriku sebenarnya. Pembuatan situs dengan isi data diri ini agar diketahui oleh masyarakat luas pengguna internet dimanapun saja berada dan catatan atau situs ini adalah untuk kenang-kenangan kepada anakku Azizah dari Dusun Badug Desa Sumuragung Kecamatan Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur

  PROFILE BAMBANG WA HALAMAN AWAL .